Minggu, 12 Oktober 2014

Bye

pergilah cinta,,
temukan apa yang kau ingin
tak perlu lagi kau memintaku untuk membunuh cintaku
karena takkan pernah ada lagi aku dalam hidupmu

jalanilah setiap jalan yang telah km tentukan
bersama dia orang yang memang kau sayang
dan takkan pernah aku menyentuh alur hidupmu lagi
sekalipun dalam mimpi terburukmu,,




Bukan Cinta tapi Luka

Terkadang aku merasa letih
Aku lelah berkawan pedih
Hingga pilu berdenting lirih

Terkadang aku merasa bisu
Diam membeku
Dalam tawa penuh tipu





Bintang

katanya kau seperti bintang
walau tak selalu tampak namun ada dihati
tp kini sungguh percuma
meski dihati tp untuk apa ?
jika adaku tak kau maknai
hanya tersimpan kemudian pergi

katanya meski jarak memisahkan
kita takan terpisahkan
tp nyatanya
berpeluk rindupun tak kau lakukan

Senin, 30 Juni 2014

DAMPAK KEMAJUAN TEKNOLOGI GAME TERHADAP EKSISTENSI PERMAINAN TRADISIONAL

 
Permainan tradisional, dua kata tersebut mungkin sudah jarang kita temui saat ini, bahkan tidak sama sekali khususnya di kota-kota besar. Dahulu permainan tradisional sering kita lihat bahkan kita sendiri yang memainkan, baik di sekitar rumah, halaman sekolah, maupun tempat-tempat lain bahkan di tempat ibadah sekalipun. Namun,  saat ini entah karena kemajuan teknologi yang membuat permainan tradisional mulai luntur atau karena faktor lain yang membuat anak-anak Indonesia enggan memainkannya kembali. Padahal semua permainan tradisional merupakan warisan dari nenek moyang kita terdahulu. Anak-anak Indonesia jaman sekarang telah mengadopsi “produk” budaya barat dimana dilengkapi dengan teknologi canggih yang efisien dan dapat dinikmati kapan saja dan dimana saja. Dari sini terlihat seolah-olah kalau mereka tidak menggunakannya, dianggap ketinggalan jaman atau bahasa saat ini “kurang gaul” serta belum bisa mengekspresikan bakatnya. Nah, apakah permainan tradisional dianggap sesuatu yang belum bisa mengekspresikan bakatnya atau kurang menarik untuk dimainkan?