Minggu, 14 April 2013

Cermin Diri



Terlalu lama aku menatap diriku dalam cermin, hingga aku lupa langkahku terhenti oleh bayangan diriku sendiri.

Kini.. tak ada satupun yang dapat kusalahkan atas ketidak berdayaanku, bahkan bayanganku tersenyum mengejek, biarlah.. mungkin dengan begitu aku bisa lebih bangkit untuk memperbaiki keadaan hidup, baik dari dalam maupun dari luar diriku.


Satu peristiwa berganti dengan peristiwa berikutnya, setiap hari terus berganti, dan tibalah saatnya dimana namaku hanya tertinggal dalam kenangan, atau mungkin tak ada satupun yang mengenalku, hingga pepatah lama yang mengatakan “manusia mati meninggalkan nama” itu tidak berarti terhadapku, ah... percuma juga jika nama ku tertinggal dalam kenangan, namun tak ada satu peristiwapun yang menjadikan aku terlahir sebagai pahlawan.

Banyak sekali orang-orang besar yang telah mati sedangkan namanya abadi dibenak pengetahuan, namun jauh lebih banyak lagi orang-orang mati yang namanya musnah ditelan waktu, bahkan mungkin lebih cepat musnah dari zasadnya sendiri, sedangkan aku? Entahlah... kurasa selama aku masih hidup, aku masih bisa memperbaiki semuanya, mengukir namaku sendiri, bukan hanya di nisan-nisan yang enggan dilirik orang, tapi bisa menjadi prasasti yang tiada ternilai harganya. Mm... masih saja menjadi penghayal. Tapi apa salahnya memiliki impian..

“Ah.. itu terlalu muluk, huh.. hidup itu harus realistis, jangan terlalu idealis, jangan pesimis, tapi lebih sedikit optimis”

Memang benar... seperti itulah yang sering orang katakan kepadaku, baik yang kukenal sebagai seorang sahabat, maupun teman-teman maya. “pikirkanlah hal-hal yang positif, maka hal positif pula yang akan kita dapatkan” kata salah seorang.

Semuanya benar, tapi kita berhak membawa minimal jiwa kita sendiri untuk tidak terpengaruh terhadap apapun, “kedengarannya seperti sangat Egois”, lagi-lagi itu juga benar, toh pada dasarnya setiap individu memiliki sifat keegoisan yang tinggi, hanya saja kita begitu mudah menutupinya, baik bertujuan untuk menyenangkan sahabat, sang pacar, atau orang-orang di sekitar kita, tapi lihatlah.. bukankah sikap seperti itu jauh lebih berbahaya.. Kitab menyebutnya sebagai orang “Munafik” hidup penuh dengan kepura-puraan hanya karena harga diri, malu terhadap orang-orang, takut tidak dihargai lagi oleh orang-orang, tapi tidak malu bahkan tidak takut dengan Tuhan. Ya, jujur saja, kadangkala itulah yang ku lakukan, topeng-topeng manis begitu mudah dipakai di saat-saat yang tepat.

Apakah kalian menyadari dan mau mengakui?

Oh.. maaf, aku lupa.. kalian tidak seperti aku, dan aku tidak seperti kalian, meski kita memiliki zasad yang sama (terbuat dari tanah), tapi memiliki jiwa yang berbeda, dan Tuhan tidak pernah keliru memberikan jalan pada setiap jiwa. Meski pada akhirnya bagi kita melangkah pada satu jalan saja tidak cukup.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar